October 17, 2021
Anak Broken Home

Aku Anak Broken Home, Ya Allah Mungkinkah Aku Bahagia?

Read Time:5 Minute, 42 Second
Anak Broken Home

Papa mamaku bercerai. Inilah aku sekarang, anak broken home. Hidupku semakin kacau setelah Papa menikah lagi dengan wanita yang ternyata sangat jahat. Setelah kedatangannya, rumah bagaikan neraka dengan pertengkaran demi pertengkaran, omelan dan caci maki setiap hari.

Harapan Papa akan kebahagiaan dengan pernikahan barunya tidak pernah ada. Keluarga kami malah semakin terpuruk dengan masalah keuangan yang sangat parah.

Sampai akhirnya, terjadilah badai terburuk yang pernah aku alami seumur hidupku. Padahal saat itu aku berada di tahun terakhirku di SMA dan tengah mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional (UN). Sudah 2 tahun lebih aku mengalami masalah yang memporak-porandakan keluargaku. Aku Olivia dan ini kelanjutan kisahku …

Terancam Putus Sekolah

Senin minggu depan aku akan menghadapi ujian akhir sekolah (UAS) semester 1. Dan di hari itu, aku mendapat surat peringatan dari sekolah karena sudah menunggak pembayaran uang sekolah selama 2 bulan. Dan aku terancam tidak bisa mengikuti ujian UAS bila tunggakan uang sekolah belum dilunasi. Padahal mengikuti UAS adalah salah satu syarat aku dapat lulus SMA.

Hal ini membuat aku sangat stress. Aku heran, sejak Papa menikah lagi, kondisi keuangan Papa jadi parah. Padahal dulu, walaupun hidup kami sederhana, tapi  tidak pernah sampai nunggak uang sekolah. Kalau aku minta uang, Papa selalu menjawab “tidak ada uang” lalu setelah itu Ibu tiriku pasti marah-marah padaku. Hal ini membuat aku malas minta uang.

Di malam harinya ketika Papa pulang, dengan sangat terpaksa dan berat hati, surat peringatan dari sekolah aku berikan ke Papa. Dan ternyata benar, Papa malah melempar surat itu ke meja dan kemudian pergi tanpa membacanya. Melihat itu, aku hanya bisa terdiam sambil menahan tangis.

\Ibu tiriku yang melihat kejadian itu. Mengejarku ketika aku bergegas masuk kamar. Dia ngomel-ngomel sambal berteriak “Lu minta duit mulu sih? Sok kaya banget sih minta-minta duit mulu. Udah tahu Papa lu lagi susah.”

Aku berusaha menahan diri tapi akhirnya emosiku meledak  “Eh, kamu tuh siapa. Papa itu adalah Papa aku … Papa kandung aku. Kamu orang baru di rumah ini. Ga usah ikut campur.” Kataku dengan nada tinggi. Ibu tiriku segera pergi dan mengadu ke Papa dan memutarbalikkan fakta dan berkata aku sudah kurang ajar dan selalu melawan orang tua. Padahal tidak mungkin aku seperti itu tanpa alasan.

Hari demi hari di minggu itu aku jalani dengan penuh kecemasan. Aku gelisah karena waktunya sudah semakin mepet. Aku takut sekali kalau sampai tidak bisa bayar tunggakan uang sekolah dan tidak bisa ikut ujian.

Aku mencoba lagi memberanikan diri mengingatkan Papa. “Pa, uang sekolahku gimana? Uangnya udah ada? Kalau Papa belum bisa bayar, Papa bisa coba buat datang ke sekolahku dan ngomong ke kepala sekolah supaya aku bisa ikut UAS”.

Papaku hanya diam. Dan kemudian dengan tertunduk Papa berkata bahwa Papa tidak punya dan sudah tidak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku tertegun dengan pernyataan Papa. Aku terdiam dan tidak menjawab apa-apa.

Ya Allah, sudah begitu parahkah kondisi Papaku? Bahkan untuk uang sekolahku saja Papa sudah tidak ada uang? Padahal ini adalah tahun terakhir aku di tingkat sekolah menengah atas. Sayang sekali rasanya bila akhirnya aku harus berhenti sampai sini dan tidak bisa lulus SMA.

Sepanjang malam itu aku hanya bisa menangis di kamar. Aku merasa sangat putus asa. Sedih sekali rasanya bila tidak bisa melanjutkan sekolah. Aku memutuskan mulai besok akan mencari kerja. Kerja apa saja, selama aku bisa menghasilkan uang. “Kalaupun aku harus putus sekolah, setidaknya aku sudah punya pekerjaan” Pikirku saat itu. Dan malam itu aku terus menangis sampai akhirnya tertidur.

Bertengkar Dengan Ibu Tiri

Tak lama setelah itu, di suatu siang, kakak datang ke rumah dengan maksud mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di rumah. Sekarang kakak dan adik-adikku terpaksa tinggal dengan mamaku, di rumah petakan kecil dengan suami baru mama. Mamaku juga sekarang sudah menikah lagi.

Kedatangan kakakku ke rumah membuat Ibu tiriku kesal. Ibu tiriku memang tidak suka pada kakakku. Kakakku orangnya kasar, emosional dan tidak sabaran. Dia selalu berani menentang Ibu Tiri dan mengungkapkan sikapnya dengan kata-kata pedas dan kasar. Sebelum kakakku akhirnya tidak tahan dan pergi dari rumah membawa adik-adikku, mereka selalu bertengkar setiap hari dan tak jarang sampai beradu fisik.

Itulah sebabnya, Ibu tiri dengan sengaja dia memperlihatkan kebenciannya pada kakakku dengan membuat keributan dengan menjatuhkan barang-barang dan menutup pintu keras-keras. Belum lagi omelan dan cacian walaupun tidak langsung ditujukan ke kakakku.

Aku mencoba menenangkan kakakku. Aku minta kakakku tidak mengubris sikap Ibu tiri dan segera mengambil barang-barang yang butuhkan dan cepat pergi dari rumah. Tapi sikap wanita itu makin tidak terkendali. Bukan hanya makian dan kata-kata kasar keluar, Ibu tiri juga mulai mengungkit kejadian-kejadian lalu yang sensitif bagi kakakku.

Akhirnya kakakku meledak dan marah. Dia balik melawan dan memaki-maki Ibu tiriku bahkan dengan sebutan bermacam-macam binatang. Dan mulailah pertengkaran di antara mereka. Saat itu, aku berusaha membela kakakku. Dan itu justru membuat Ibu tiriku malah semakin marah. “Ngapain lu ikut campur hah!” bentaknya kepadaku.

Kakakku akhirnya cepat-cepat pergi dari rumah. Tapi masalah belum selesai. Aku dengan Ibu tiriku masih tetap beradu mulut dan suasana semakin panas. Ini adalah pertengkaran kami yang paling hebat selama wanita itu ada di rumah. Saat itu aku sendiri tidak dapat mengontrol emosiku. Semua kebencian yang aku pendam selama ini meledak di saat itu.

Dan di puncak kemarahannya Ibu tiriku menendangku, menjambak rambutku dan menghantamkannya ke tembok dengan keras. Aku tidak terima. Rasanya ingin aku membalas perlakuannya. Tapi aku merasa ada kekuatan yang menahanku bertindak lebih jauh. Sehingga aku hanya melampiaskan sakit hatiku dengan makian dan kata-kata yang paling pedas dan kasar.

Sampai akhirnya aku menyudahi pertengkaran itu dengan pergi  masuk kamar sambil menangis.

Diusir Dari Rumah

Malam harinya, sebelum aku mengadu pada Papa kejadian di siang tadi, Ibu tiriku sudah memfitnahku dengan memutarbalikkan fakta. Dia bilang aku anak yang kurang ajar, kasar dan selalu melawan dia. Sedihnya, walaupun aku mencoba membela diri, tapi Papa tidak mendengarkan penjelasan dariku, malah percaya kata-kata wanita itu.

Perkataan Ibu tiriku membuat Papa ikut-ikutan sangat emosi terhadapku.Aku mencoba membela diri. Tapi Papa semakin marah. Dalam puncak kemarahannya dia berkata ,”Pergi kamu dari rumah ini, anak kurang ajar!!”

Bagaikan tersambar petir aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Papaku. Seketika hatiku terasa hancur. Tidak bisa kugambarkan betapa terlukanya aku saat itu. Aku tidak percaya dengan ucapan Papaku. Ucapan itu bagaikan pisau yang menusuk tajam hatiku.

Papa yang kubanggakan selama ini tega mengusir anak kandungnya sendiri. Selama ini aku berjuang untuk bertahan di rumah ini demi Papa. Aku berusaha melindungi Papa dari wanita iblis itu. Tapi ternyata pengorbananku selama ini sia-sia.

Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Mulutku terasa berat dan saat itu aku hanya meneteskan air mata. Dan ternyata Papa serius dengan ucapannya. Papa benar-benar mengusirku. Aku pun tidak punya pilihan lain.

Dengan perasaan yang hancur, malam itu aku pun mengambil barang-barangku. Aku melangkah meninggalkan rumah tanpa tahu mau kemana …

Cerita Selanjutnya, “Petunjuk Allah Lewat Mimpi”

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Istri Baru Papa Previous post Istri Baru Papa Datang, Hidupku Semakin Hancur
Petunjuk Lewat Mimpi Next post Petunjuk Allah Lewat Mimpi