October 17, 2021
Lahiran Tanpa Suami

Sedih, Lahiran Tanpa Suami & Keluarga

Read Time:4 Minute, 18 Second
Lahiran Tanpa Suami

Setelah tahu gue hamil, Nyokap sakit keras. Sakitnya nggak jelas. Diperiksa ke dokter katanya infeksi thypes. Selama sebulan lebih beliau dirawat di RS. Kondisinya sangat memprihatinkan. Akhirnya Dokter suruh Nyokap pulang karena secara fisik Nyokap sudah sehat, walaupun kondisi sebenarnya tidak kunjung baik. 

Selain mikirin Nyokap, gue juga ngalamin tekanan ekonomi dan psikologis. Dan Gue putuskan untuk coba gugurkan janin dalam kandungan gue. Tapi janin ini terus kuat bertahan sampai lahirlah dia ke dunia di tengah segala keterbatasan hidup gue. Perasaan kacau dan sedih berkecamuk didalam jiwa gue. Rasanya gue udah nggak sanggup lagi ….

Depresi & Mimpi Buruk

Gue tahu Nyokap depresi mikirin gue. Beliau belum siap menanggung malu karena aib yang gue buat.

Gue tinggal di kosan yang cukup jauh dari keluarga. Tapi adik-adik terus mengupdate kondisi Nyokap. Jadi gue selalu tahu kabar Nyokap. Gue stress mendengar kondisi Nyokap. Saking stressnya gue sampai berkali-kali mimpi buruk. Akhirnya gue putuskan untuk bawa Nyokap tinggal bareng gue di kosan. Gue pikir, gue yang harus tanggung jawab. Minimal kalau Nyokap di kosan gue bisa pantau, pikiran gue jadi lebih tenang.

Anehnya, baru beberapa hari tinggal di kosan, Nyokap lebih sehat dan mulai gemukan.  Gue senang banget. Tapi heran juga, kok perubahannya cepat banget.

Akhirnya gue tahu mengapa perubahan Nyokap bisa sedrastis itu. Nyokap cerita, adik Nyokap yang biasa gue panggil Bibi menasihatinya, agar Nyokap bisa lebih menerima keadaan gue, karena kalau Nyokap terus begini, bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga menyusahkan semua keluarga. 

Perkataan Bibi ini mulai membuka pikiran Nyokap. Di situlah Nyokap mulai bisa menerima kehamilan gue. Nyokap mulai bisa tidak memikirkan diri sendiri dan mulai mikirin cucunya yang dalam kandungan. 

Tak lama, Nyokap pun minta kembali pulang. Gue lega, Nyokap sudah sehat. Pikiran gue jadi lebih plong, ya satu masalah selesai. 

Gugurin Atau Pertahankan?

Kandungan gue makin besar. Gue nggak bisa lagi kerja seperti biasa. Stamina gue makin ngedrop, apalagi ditambah efek obat-obatan yang gue minum untuk menggugurkan kandungan. Saat usia kandungan sudah 5 bulan, temen gue bilang makin beresiko untuk melakukan aborsi. Apalagi dokter kandungan yang dikenal suka praktek aborsi kena grebek waktu itu. Jadi gue nggak tahu lagi musti ke mana untuk aborsi. 

Sebenarnya, batin gue tersiksa banget. Gue pengen banget mempertahankan anak ini. Apa salah anak ini sehingga gue berusaha membunuhnya. Dia nggak salah, gue yang salah. Gue yang berbuat, tapi nggak berani tanggung jawab. Kenapa anak ini yang harus mati demi membela keluarga. 

Kasihan anak ini. Berbagai ramuan gue minum untuk membunuhnya. Belum lagi lebih dari 50 butir ekstasi masuk ke tubuh gue selama kehamilan. Tapi heran, dia tetap hidup. Malah justru tubuh gue yang makin ancur-ancuran. 

Suatu hari, seharian gue gak ngerasain gerakannya dalam perut gue. Langsung gue berpikir “jangan2 anak ini mati.” Aneh… gue bukannya senang, tapi malah panik dan merasa bersalah. Ya Allah, begini banget ya kelakuan gue, menyiksa darah daging sendiri padahal anak ini sama sekali nggak bersalah. 

Pikiran ini membuat gue harus melakukan sesuatu. Gue langsung minum madu, vitamin penambah darah dan makan buah-buahan. Gue pikir badan gue harus lebih sehat dan kuat. Alhamdulilah, malamnya gue ngerasain lagi bayi ini bergerak dalam perut gue. Dia masih hidup.  

Akhirnya gue nyerah, gue harus pertahankan anak ini. 

Hidup Yang Morat Marit

Karena nggak bisa bekerja karena hamil, gue sering nggak pegang uang sama sekali. Buat makan aja, gue sering harus menunggu belas kasihan orang lain. Gue cuma punya cincin yang memang gue pertahankan untuk biaya lahiran dan bisa laku 600 ribu. 

Tibalah harinya lahiran. Dari puskesmas gue dirujuk ke rumah sakit karena ketuban sudah pecah dan terjadi infeksi sehingga harus segera caesar. Gue cuma pasrah. Gue udah abis-abisan, uang yang tersisa nggak bakal cukup, tapi untunglah masih ada Jamkesmas. 

Akhirnya anak gue pun lahir dengan selamat. Inilah saat yang gue tunggu, akhir dari seluruh penderitaan dan tekanan yang selama 9 bulan ini gue alami. Gue merasa bebas dan merdeka. 

Ketika pertama kali gue gendong bayi gue, gue marasa sangat bahagia. Tapi sedih juga melihat anak gue hanya dibungkus dengan handuk rumah sakit, karena gue nggak sanggup beli perlengkapan bayi. Rasa haru bercampur bangga melihat anak ini lahir dengan sehat dan rambutnya lebat. Ya Allah, dia cantik sekali. Saat itulah gue janji, walaupun hidup sesusah apapun, anak ini tidak nggak gue sia-siakan. 

Di rumah sakit, gue merasa sangat kesepian. Orang lain didampingi suami dan keluarga, mereka ada yang nemenin, ada yang suapin, sedangkan gue boro-boro, semua harus gue lakukan sendiri. Bahkan sebenarnya keluarga tidak ada yang tahu gue lahiran kecuali Nyokap.  

Entah mengapa, gue merasa Allah dekat. Gue yakin Allah melihat semua derita gue dan Dia peduli. Aneh memang, gue tahu gue orang yang berlumuran dosa. Gue juga nggak pernah sholat. Tapi seolah ada titik terang di dalam kegelapan ini. Gue sadar, Allah-lah yang menolong gue melewati saat kondisi-kondisi sulit ini.

Gue mulai inget sama Allah, pengen mengenal Allah. Kerinduan itu beberapa muncul di pikiran gue, tapi kemudian gue tepis karena gue pengen mulai fokus untuk memikirkan masa depan gue dan anak gue.

Ceritaku selanjutnya :
Dari Hiburan Malam, Kini Jatuh Cinta Pada Isa Al-Masih
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hamil Previous post Rini, Kamu Hamil Ya?
Jatuh Cinta Next post Dari Hiburan Malam, Kini Jatuh Cinta Pada Isa Al-Masih