selalu gagal

Hai. Namaku Mala. Aku adalah anak ke delapan dari sembilan bersaudara. Sejak kecil aku merasa kurang disukai oleh saudara-saudaraku. Di antara semua saudaraku, aku yang paling punya sifat keras dan suka berontak. Memang, semenjak kecil aku paling benci diatur orang lain. Aku juga suka melawan, bahkan tidak jarang aku melampiaskan amarahku dengan mengeluarkan kata-kata kasar sambil melempar dan menghancurkan barang-barang yang ada di sekelilingku.

Karena sifatku itu, aku sering bertengkar dengan siapa saja. Di sekolah aku bertengkar dengan guru dan teman. Dalam dunia pekerjaan, aku sering tidak cocok dengan teman kerja sehingga harus sering berpindah-pindah pekerjaan.  Bahkan dalam pernikahan pun aku gagal.

Namun bersyukur aku bertemu Isa Al-Masih yang mengubah hidupku…. Buat kalian yang merasa hidupnya gagal dan tidak berarti, aku ingin kalian mengalami yang aku alami.

KABUR DARI RUMAH SELAMA SEBULAN

Rumah bukanlah tempat yang nyaman buatku. Sejak di bangku SMP, aku lebih senang berada di luar rumah, kumpul dengan teman-teman dan menghabiskan waktu dibawah gemerlap lampu diskotik hingga pagi menyambut. Aku senang dengan kehidupan malam, itu membuatku seolah bebas dari semua masalahku. Namun, jika pagi sudah datang, semua keceriaan itu hilang karena aku harus kembali ke rumah dan bertemu kakak-kakakku yang selalu menganggap aku sebagai anak yang nakal. 

Suatu kali, kakakku mendatangi aku. “Mala, lo kemanain duit mama yang 5 juta?”, tanya kakakku dengan nada yang agak tinggi. “Hah, duit apaan ka?”, jawabku bingung. “Halah, jangan belaga bego deh lo, pasti lo kan yang ngambil duit mama. Kalo enggak, duit darimana lo dugem sama nongkrong tiap malam?”, kata kakakku dengan nada yang menyinggung.

“Eh, kakak jangan asal nuduh ya! Mala gak pernah nyuri”, jawabku dengan tegas. “Kalo nongkrong atau main, Mala itu pasti dibayarin teman-teman Mala loh ka”, jelasku ke kakak. “Alahh, udah deh, lo gausah bohong, mana mungkin gue sama kakak-kakak yang lain yang ngambil, orang lo doang kok yang sering foya-foya dan ngabisin duit. Ngaku aja deh!”, jawab kakakku dengan emosi. “Sumpah ya ka, daripada kakak nuduh aku gini, mending aku pergi deh dari rumah ini, aku juga udah capek disini, kerjaannya ribut mulu tiap hari”, kataku kesal. “Ya udah, pergi aja deh lo, dasar anak gagal!”, bentak kakakku.

KAKAKU MEMINTAKU PULANG

Akhirnya, saat itu aku pergi dari rumah dan tinggal di rumah temanku selama sebulan. Tetapi, akhirnya sebulan kemudian Kak Rima mendatangi aku dan memohon aku untuk pulang ke rumah. Kak Rima adalah kakakku yang paling baik di antara yang lain. Dia yang paling mengerti aku. Akhirnya aku memutuskan pulang, karena dia sangat memohon aku pulang.

Setelah beberapa lama aku tinggal di rumah, aku akhirnya mengetahui bahwa yang mencuri uang mamaku adalah kakakku yang mengusir aku dari rumah. Disaat itu dia mengaku dan meminta maaf. Aku memaafkannya saat itu, tetapi semua maaf itu hanya sebatas perkataan di bibir saja, di dalam hati sebenarnya aku masih marah dan menyimpan dendam yang begitu besar.

KENAKALANKU DI MASA SMA

Sifatku ini terbawa terus sampai aku masuk ke bangku SMA. Semakin hari kelakuanku semakin menjadi, aku semakin suka minum alkohol dan mulai mengenal dengan narkoba. Permasalahanku juga sampai ke sekolah, saat itu aku dituduh berpacaran dengan guru olah raga sekolahku. Aku difitnah dan dicap sebagai wanita murahan. Akhirnya aku mencari orang yang menyebar fitnah tentang diriku dan mendatangi orang tersebut. Aku langsung menjambak rambutnya dan menghajar dia dengan tidak berperasaan.

Saat itu aku benar-benar melepaskan semua tenaga dan emosiku kepadanya. Karena hal tersebut, aku akhirnya diskors selama dua minggu oleh pihak sekolah. Orangtuaku yang akhirnya mengetahui aku diskors memarahi aku dan sempat mengancam untuk berhenti membiayai sekolahku. Memang, saat itu aku sangat emosi, ibaratnya aku adalah orang yang ber-“darah panas” dan tidak mengenal kata ampun.

Sebenarnya saat masuk SMA aku ingin berubah, aku ingin dapat lebih menahan emosiku. Aku kasihan melihat orang tuaku saat itu. Tapi aku masih tetap sering keluar malam dan menjalani kehidupan malam yang bebas. Aku sempat mau berhenti untuk keluar malam, tetapi teman-temanku selalu saja mengajak aku dan bilang aku sombong apabila tidak mau ikut keluar dengan mereka.

Suatu kali, saat aku sedang berada di diskotik aku diberikan minuman dengan salah seorang temanku. Tidak lama setelah aku meminum minuman tersebut, aku langsung merasakan pusing di kepalaku. Saat itu pandanganku seolah berputar, namun aku masih bisa merasakan sentuhan dan mendengar suara, walaupun dengan samar-samar. Tiba-tiba aku merasakan ada suatu sentuhan jemari yang mulai menggerayangi tubuhku. Saat jari itu mulai membuka bajuku, entah bagaimana aku langsung tersadar.

“Eh, lu mau ngapain!?”, bentakku. Aku melihat sekeliling dan betapa kagetnya aku saat aku menyadari bahwa saat itu aku sedang berada di dalam sebuah kamar hotel bersama dengan seorang teman sekolahku. Aku akhirnya memberontak, memaki-maki dan akhirnya kabur dari kamar hotel tersebut. Aku bersyukur kalau malam itu aku masih selamat, dia gagal dalam menjalankan aksinya. Mungkin saat itu dosis obat tidur yang dimasukkan ke minumanku itu kurang.

Tiga bulan setelah aku tamat SMA, akhirnya aku mulai kerja. Aku adalah orang yang tergolong pekerja keras, namun walaupun demikian aku juga tergolong sebagai orang yang sering sekali berpindah-pindah pekerjaan. Sifatku yang gampang tersinggung dan memberontak adalah faktor utama yang membuat aku memiliki berbagai masalah di tempat aku bekerja. Suatu kali, saat aku sedang menunggu bis untuk pergi ke temat kerja, tiba-tiba seorang pria mendatangiku dan bertanya, “Mbak, kalau mau ke Cempaka Putih Barat saya bagusnya saya naik apa ya?”, tanya dia kepadaku. “Wah saya gak tau mas, coba mas tanya orang itu deh, mungkin dia tau.” Jawabku. Dimulai dari situ, entah bagaimana saat itu akhirnya obrolan menjadi obrolan yang panjang dan berkenalan satu sama lain.

PERNIKAHANKU YANG GAGAL

Beberapa hari kemudian, dia menghampiri rumahku dan kami pun berbincang. Semakin hari, pertemuan kami semakin sering dan teratur. Setiap malam minggu kami bertemu dan bercakap-cakap, topik percakapan kami pun semakin hari semakin mendalam. Bagiku saat itu, dia orangnya tenang, cool gitu, keren lah pokoknya. Ditambah, menurut aku dia perhatian dan halus, dia sepertinya sangat memperhatikan wanita. Semenjak saat itu, rasa cinta muncul dan semakin hari semakin kuat. Singkat ceritanya, kami pun memutuskan untuk menikah.

Namun perjalanan rumah tangga kami tidak berjalan seperti apa yang sudah kami harapkan. Sifat asli suamiku akhirnya muncul. Saat itu aku menyadari bahwa kami bukanlah pasangan yang sejalan. Suamiku memiliki sifat yang sangat suka mengatur, sedangkan aku adalah sosok perempuan yang sangat benci diatur-atur. Selain itu, suamiku juga sering mengabaikan pendapat-pendapatku, sehingga aku sering merasa tidak didengar dan pertengkaran pun terjadi. Akhirnya tidak perlu waktu yang lama, kami pun memutuskan untuk bercerai. Pernikahanku gagal, tidak lancar seperti bayanganku di awal hubungan kami.

SEMAKIN TERPURUK DALAM KEGAGALAN

Setelah perceraianku itu, aku sering merasa tidak damai. Di dalam hatiku aku sering sekali bertanya, “Kenapa yah apa yang kukerjakan selalu gagal? Apa sih salahku sampai aku bisa begini?”. Saat itu aku menjadi sering sholat dan puasa, aku menjadi semakin perduli dengan agamaku. Aku sangat sering bertanya kepada Allah dalam sholatku. Kenapa nasibku seperti ini? Kenapa kegagalan seolah selalu mengikuti aku kemanapun aku melangkah? Kata “gagal” seolah menjadi seperti kutukan tersendiri bagiku. Di waktu yang bersamaan juga, aku selalu merasa ada suatu kekosongan di dalam hatiku, tetapi saat itu aku benar-benar tidak tau rasa kosong apakah itu dan apa hal yang bisa mengisi rasa kekosonganku itu.

Jika Anda pernah mengalami kisah seperti yang dialami oleh Mala, bagikan pengalaman Anda dengan mengirim kisah di sini. Di tengah permasalahan hidup yang menerpa Anda, jangan takut untuk mencari jalan kebenaran dalam Isa-Almasih. Bagikan beban Anda yang kepada kami dengan mengirimkannya di sini

CERITA SELANJUTNYA :

ISA AL-MASIH, MENGUBAH HIDUPKU YANG GAGAL

0 0 vote
Article Rating