Aku berkenalan dengan seorang wanita berusia separuh baya. Entah mengapa aku percaya saja pada wanita yang biasa kupanggil Tante ini. Hampir saja aku diperdaya olehnya. Kalau saja Allah tidak menolongku dan memperingatkanku, entah apa jadinya aku. Terima kasih ya Allah…

Namaku Yulia. Aku ingin menceritakan bagaimana Isa Al-Masih menolong melepaskanku dari jeratan setan. Isa Al-Masih adalah sahabat dan penyelamatku. Bukan saja untuk kehidupan di akhirat, tapi Dia juga penolongku di masa sekarang.

PULANG DENGAN PERASAAN TERTEKAN

Seusai menyelesaikan pendidikan SMA di Jakarta, aku memutuskan bekerja di kota lain. Aku tidak langsung melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya. Aku memilih bekerja di Jogjakarta, tinggal jauh dari orang tua ku. Dari hatiku yang terdalam aku tidak mendapatkan kebahagiaan di tengah keluargaku. Aku ingin hidup sendiri, berjuang sendiri untuk mencari ketenangan batin. Aku sengaja pergi menjauh dari keluargaku supaya rasa sakit yang kualami dari keluargaku tidak lagi kurasakan. Aku senang sekali bisa merantau keluar dari Ibu Kota Jakarta tempat aku lahir dan dibesarkan, biasa disebut orang kota metropolitan yang penuh hiruk pikuk dan kemacetan. Disaat banyak orang datang berbondong-bondong ke kota Jakarta, aku malah mencari pekerjaan dengan suasana pedesaan. Bagiku, Jogjakarta adalah kota yang indah, masyarakat dimana aku tinggal terkenal ramah dan aku merasa sangat nyaman tinggal di kota ini.

Setelah beberapa tahun tinggal dan bekerja di kota Jogjakarta. Aku harus pulang kembali ke Jakarta, kota dimana aku berasal. Orang tua ku mengabarkanku kabar yang tidak baik tentang keluarga kami dan memintaku untuk kembali ke kota Jakarta. Padahal sebenarnya aku masih ingin tetap di Jogjakarta. Aku suka dengan pekerjaanku dan tempat dimana aku tinggal. Aku merasa di sana aku mendapatkan ketenangan, hidupku menjadi lebih bermakna. Apalagi saat itu, kondisi pekerjaanku di sana sedang bagus-bagusnya. Aku dan timku telah mendapatkan banyak penjualan selama di sana. Aku sangat menikmati hidupku, walaupun tinggal di kota kecil yang sepi, jauh dari keramaian kota besar.

Rasanya berat sekali harus meninggalkan semua yang aku sudah bangun. Buatku lebih berat meninggalkan kota perantauan ini dibandingkan kampung halamanku sendiri. Masih terasa perasaan sedih yang kurasakan ketika akhirnya aku memutuskan pulang. Tapi aku harus pulang kembali ke kota dimana aku berasal. Keluargaku membutuhkanku.

Selain perasaan sedih karena terpaksa harus pulang, ada hal lain yang menekan perasaanku saat itu. Aku sedang ada konflik dengan teman-teman di tim. Hubungan kami sedang tidak baik. Konflik ini disebabkan oleh salah seorang mitra kami yang bernama Tante Rani. Kami berbeda sikap dan pandangan tentang dia. Sehingga kami sering berdebat.

Tante Rani adalah klien kami dengan penjualan yang besar. Dan aku merasa itu karena usaha dan kerja kerasku. Ada kesombongan di hatiku saat itu. Aku merasa akulah yang lebih berjasa dalam hasil kerja yang kami peroleh saat itu secara tim, karena prestasiku mendapatkan klien sebaik tante Rani. Selain itu, aku orang yang senang menyenangkan banyak orang dan sulit berkata tidak pada orang lain. Jadi ketika bersama Tante Rani ini, aku selalu ingin menyenangkan dia. Jadi tanpa sadar aku berusaha mengambil perhatiannya terhadap diriku. 

Kedekatanku dengan Tante Rani membuat teman-teman di tim kerjaku menaruh curiga dan menuduhku macam-macam.  Aku merasa mereka mulai mengucilkan dan menjauhiku. Perasaan stress dan terpuruk mengiringi kepulanganku ke kota asalku.

KASIH SAYANG IBU YANG KUCARI

Setelah pulang ke kota Jakarta, aku masih sering kontak dengan Tante Rani. Mungkin alasan mengapa aku tidak bisa menjauh dari Tante Rani ini adalah karena aku menemukan sosok ibu pada Tante Rani. Aku tidak merasa dekat dan merasakan kasih sayang seorang Ibu. Ibuku adalah tipe ibu yang dominan dan diktaktor. Bisa dikatakan, Ibuku-lah yang sebenarnya menjadi kepala rumah tangga di keluarga kami. Ibuku yang membiayai semua kebutuhan keluarga. Di sisi lain, Ayahku adalah tipe laki-laki yang kurang bertanggung jawab. Tidak pernah ayah memberi kami uang. Ayahku penghasilannya pas-pasan, jadi tidak pernah cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari.

Selain itu ibuku juga pilih kasih pada adik laki-lakiku. Aku merasa ibuku tidak menghargaiku sebagai seorang anak, padahal aku sudah berkorban meninggalkan pekerjaan dan impianku di kota Jogjakarta karena menghormati beliau. Aku merasa Ibuku hanya menghargaiku karena uang. Kalau aku beri uang, beliau senang dan baik kepadaku tapi di saat aku tidak punya uang, beliau sering merendahkanku.

Hal ini membuatku merasa tertolak dan tidak bisa dekat dengan Ibuku. Dari kecil, susah sekali aku meminta uang pada Ibuku. Padahal sebenarnya Ibuku punya banyak uang. Kalau aku minta uang, ada saja omelannya, sehingga aku bertekad aku harus segera punya uang sendiri sehingga tidak perlu lagi minta-minta uang pada Ibuku. Jadi ketika aku sudah bisa cari uang sendiri, aku merasa ini uangku. Aku menghabiskan seluruh penghasilan untuk diriku sendiri, aku merasa tidak perlu memberikan uang ke keluargaku.

Karena aku tidak pernah merasa disayangi oleh seorang ibu dan hanya dihargai hanya karena uang, ini membuatku merasa Tante Rani ini dapat mengisi kekosonganku akan kasih sayang seorang ibu. Aku sudah menganggap dia Ibuku, dan dia juga sudah menganggap aku anaknya.

HARAPAN BISA KULIAH

Setelah aku pulang ke kota Jakarta, aku memulai kembali kegiatanku yang dulu, jualan door to door. Aku sudah merasa cukup dan tidak tertarik untuk bekerja di kantor atau mengejar karier lagi. Malah sebenarnya aku sudah kehilangan hasrat untuk mengejar apapun. Jiwaku tertekan, aku sangat stres.

Perasaan tertolak dan konflik yang dulu terjadi di pekerjaan lama masih membayangiku. Aku merasa terpukul mengingat sikap teman-teman kepadaku. Aku memilih untuk hidup biasa-biasa saja, tanpa ambisi apapun. Padahal dulu aku penuh dengan ambisi dan cita-cita. Aku berpikir tidak mungkin aku kembali bekerja seperti pekerjaanku yang dulu walaupun sebenarnya aku sangat ingin.

Sebenarnya aku ingin kuliah ketika aku pulang ke kota Jakarta, tapi aku tidak punya biaya.Aku sering cerita kehidupanku pada Tante Rani. Kami memang sering berhubungan via telepon. Dia pun sering menceritakan kehidupan dan masalah-masalahnya padaku.

Pada suatu hari, aku menceritakan pada Tante Rani harapanku untuk kuliah lagi. Dan tiba-tiba saja Tante Rani menyatakan keinginannya untuk membiaya kuliahku. “Bener nih, tante serius?  Mahal loh biaya kuliahku”, tanyaku menyakinkan diri.

“Iya, nanti tante jual tanah, cukuplah untuk biaya kuliahmu yah”, katanya. Wah aku senang sekali. Aku merasa ini jawaban Tuhan untuk doaku untuk bisa kuliah. Aku sangat bersemangat. Akhirnya aku bisa membuktikan diri pada teman-teman di tempat kerjaku dulu yang telah merendahkanku bahwa aku bisa sukses. Aku juga ingin membuktikan pada mereka bahwa aku benar dan semua tuduhan mereka salah. Tante Rani tidak seburuk yang mereka duga,

Tapi sebenernya, dalam hatiku aku merasa ada sesuatu yang janggal, aku merasa tidak damai. Tapi segera aku tolak perasaan itu, karena aku terlalu senang bisa kuliah karena ada yang membiayaiku. Aku bisa mewujudkan impianku.

TANTE RANI TERNYATA ….

Kemudian, Tante Rani memintaku menemuinya di kota Jogjakarta, tempat dimana kami berkenalan pertama kalinya. Katanya untuk kepentingan kuliahku. Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya. Aku tidak memberitahu siapapun pertemuan ini, apalagi pada teman-temanku di tempat kerja yang dulu, karena pasti mereka akan menghakimi dan melarangku.

Dan sampailah aku di kota Jogjakarta dan tinggal di rumah Tante Rani. Di situlah aku baru tahu siapa sesungguhnya Tante Rani ini. Masa lalunya sangat kelam, dia pernah masuk dunia malam, obat-obatan dan krimininalitas. Bahkan ternyata dia seorang dukun atau orang biasa menyebutnya orang pintar. Menurut pengakuannya dia sudah meninggalkan semua itu dan ingin bertobat. Dia ingin hidup benar dan beribadah. Awalnya aku percaya. Tapi ternyata, semua itu hanya kebohongan belaka.

Suatu malam, ketika aku sedang tidur, dia mendatangiku, mencium bibirku dan hampir saja “mengerjaiku” malam itu. Untunglah aku segera bangun dan tersadar. Ternyata Tante Rani ini mengalami kelainan seksual. Untung aku segera dapat menghindar dan selamat saat itu. Ternyata Tante Rani ini bukan orang baik. Kalau tidak dari sekarang aku memutuskan hubungan dengan dia, akan semakin sulit  akan lepas dari dirinya. Sehingga saat itu juga memutuskan untuk pulang dan memutuskan hubunganku dengan Tante Rani.

Tapi aku bingung …. bagaimana dengan kuliahku?

Jika Anda pernah mengalami kisah seperti yang dialami oleh Yulia, bagikan pengalaman Anda dengan mengirim kisah di sini. Di tengah permasalahan hidup yang menerpa Anda, jangan takut untuk mencari jalan kebenaran dalam Isa-Almasih. Bagikan beban Anda yang kepada kami dengan mengirimkannya di sini

0 0 vote
Article Rating